Home » » Kumis Pak Polisi

Kumis Pak Polisi

Written By Redaksi kabarsulawesi on Minggu, 13 Februari 2011 | 11.21.00

Kata sebagian orang, kumis adalah lambang kejantanan kaum pria. Pernyataan ini tentunya berlaku bagi pria yang punya kumis. Tapi bagi pria yang tidak punya kumis, akan berkata, “Toh kumis bukanlah alat pejantan kaum pria.”

Memang masalah kumis masih menjadi perdebatan baik antar sesama pria maupun sesama wanita, dan tidak pernah berakhir, sejak pria sudah punya kumis hingga jaman elektronik saat ini.

Soal kumis, saya ingat Pak Suritsyono, Mantan Kapolresta Parepare beberapa tahunlalu. Pagi itu saya ketemu beliau di ruang kerjanya ketika ketika dia masih menjabat Kapolresta parepare yang kebetulan waktu itu beliau memang tidak punya kumis, bercerita kepada saya. Begini ceritanya ;

Ketika saya masih kecil, anak kecil paling takut pada pak polisi yang berkumis. Tidak mengherankan jika pada waktu itu bila ada seorang anak menangis tiba-tiba berhenti menangis kalau ibunya menak-nakutinya dengan pak polisi berkumis.

Suatu ketika, ada anak tetangga saya menangis, maklum waktu itu musim layangan. Si anak tadi menagis tiada hentinya lantaran ingin bermain layangan pada siang hari tapi ibunya melarang. Walaupun ibunya sudah menggunakan segala cara agar anaknya diam, namun usaha sang ibu gagal. Ketika sang ibu sudah kehabisan cara mendiamkan anaknya yang terus menangis, tiba-tiba lewat seorang pak polisi berkumis lebat, sang ibu pun tersenyum. Sambil menyeret anaknya yang masih terus menangis keluar ke halaman rumah. Sang ibu menak-nakuti anaknya.

“Pak polisi…! Ini ada anak menagis…..! “ teriak sang ibu sambil memanggil pak polisi.

Mendengar teriakan sang ibu, pak polisi yang berkumis lebat tadi berhenti dan menatap si anak sambil mengusap-usap kumisnya.

Melihat tampang pak Polisi yang seram itu, sang anak itu langsung berhenti menangis dan buru-buru masuk kedalam daster ibunya.

Sang ibu merasa lega, pak Polisipun pamit melanjutkan perjalanannya.

Namun saat pak polisi tadi sudah pergi, tiba-tiba sang anak yang berada di dalam daster ibunya keluar sambil menangis meraung-raung

Sang ibu kaget, lalu bertanya.

“ Kenapa kamu menangis….! “

Sang anak bilang, “ Di dalam daster ibu ada pak polisi, wajahnya lebih seram lagi  dari pak polisi tadi….”.

***

Dulu, memang banyak pak polisi segaja memelihara kumisnya ( sekarang pun masih ada ). Tujuannya beragam, ada memelihara kumis karena hobbi atau agar terlihat gagah atau bahkan mungkin untuk menak-nakuti rakyat seperti cerita anak kecil yang takut kumis pak polisi. Bahkan tidak mengherankan, dijamannya Letkol Surisyono (si pemilik cerita tadi) ada pameo, “ kumis dan pak polisi tidak bisa dipisahkan,” atau bisa jadi dijaman itu, pak polisi memelihara kumis untuk menakuti masyarakat, yang menggambarkan sosok pengayom masyarakat yang identik dengan keangkeran dan kekerasan seorang polisi saat berhadapan dengan masyarakat.

Tapi sekarang, jaman sudah berubah, kumis pak polisi bukan lagi senjata untuk menakuti rakyat. Senjata yang paling ampuh bagi pak polisi untuk berhadapan dengan masyarakat adalah: Senyum,Salam, dan Sapa. Hanya tidak bisa dipungkiri gambaran sosok seorang Polisi identik dengan kekerasan masih dimiliki sebagian pak polisi kita. Kultur dan budaya ini menjadi pekerjaan rumah bagi institusi Polri untuk melakukan reformasi dalam tubuhnya sendiri.

Selain kultur dan budaya tadi, juga pak polisi kita masih banyak yang melanggar aturan dalam berhadapan dengan masyarakat. Pungli di jalan adalah salah satu diantaranya yang perlu mendapat tanggapan serius bagi institusi  Polri saat ini.

Swiping berkedok Operasi Rutin setiap hari digelar disepanjang jalan poros. Bak petugas retribusi, pengendara motor/sopir selipkan duit, lalu tancap gas, setelah itu, pak Polispun tersenyum. Kata orang Sidrap, ma’kanresi gellaE.

Budaya dan kultur yang melilit Pak Polisi kita itu disadari bahwa masyarakat jugalah yang tetap mempertahankan kultur dan budaya cara kerja Polisi kita saat ini. Untuk merubah budaya dan kultur tersebut yang tadinya bekerja sebagaimaana biasanya harus menjadi bekerja sebagaimana mestinya.

Perlu waktu yang panjang, baik perubahan itu dilakukan Pak Polisi sendiri maupun perubahan yang dilakukan masyarakat. Masalah ini sangat komplek.

Share this article :

VISI DAN MISI

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KOMNAS WASPAN SULSEL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger